Rumus Bahagia

Standard

Jangan dibudakin duit, biar ngerti apa arti bahagia, ukuran bahagia. Sekarang banyak orang gak ngerti ukuran bahagia, cilaka dah! ~JJ Rizal, Sejarawan & Budayawan Muda~

Setelah beberapa kali gagal total, akhirnya tanpa direncanakan tadi malem Gw dan Joe bersua lagi dengan abang sejarawan dan budayawan muda yang ngehits dan baik hat,i JJ Rizal. Gak  ada angin, hujan, apalagi sampe masuk waiting list untuk janji ketemuan Kamipun sempat untuk ngobrol ngalor-ngidul tentang Tuhan, sepak bola, tokoh sumpah pemuda, semangat nasionalisme, buku, kopi, kafe dan diakhiri dengan beberapa tips untuk menulis.

Yes! pembicaraan super random yang anehnya berhasil disulap jadi rangkaian petuah dan bikin Gw merenung tentang hidup Gw! WTF! Iya, I know! salah fokus! Si Abang emang top! Hahhahaha..

I was super excited, sampe lupa pesenin Joe minuman dan ngoceh terus selama berjam-jam sampai obrolan selesai😛.

*Otak Gw secara random memilih untuk merenungi kata “hidup” dan “Bahagia”*

Ngomongin hidup secara umum, pasti gak ada habisnya. Apakah kita dalam keadaan bahagia, pura-pura bahagia, atau sedang meyakinkan diri bahwa kita bahagia, tiap situasi itu punya tingkat kesulitan dan tantangan yang berbeda.  Sudah bahagia, pasti ada kebutuhan untuk melanggengkan kebahagiaan. Pura-pura bahagia, pasti butuh energi yang besar banget. Sedangkan saat meyakinkan diri bahwa kita bahagia di saat kita gak benar-benar ada di situasi “Bahagia”, pasti butuh sedikit kegilaan disamping energi yang gak terbatas.

*Makin berat*

*Kemudian mikirin dunia*

*Kemudian mikirin diri sendiri*

*Kemudian sadar*

Ternyata baru-baru ini aja Gw merasa menjadi orang yang lebih bahagia dari sebelumnya dan semuanya terjadi setelah Gw merelakan sesuatu dan mengubah persepsi Gw tentang hubungan dengan orang lain. Gw memilih untuk merelakan drama-drama dalam hidup Gw apapun objek/subyeknya😉.  Buat Gw sekarang, gak ada orang yang spesial-spesial banget kecuali Joe, 2 orang sahabat Gw sejak 17 tahun yang lalu dan beberapa orang yang dengan “Free Will” memilih untuk gak menyingkir dan tetap terlibat dalam hidup Gw, manis banget! :*

Tanpa didasari hubungan yang kuat, Gw percaya menempatkan orang lain di posisi super spesial itu beban, beban buat kita dan buat orang tersebut karena ada hak dan kewajiban yang jadi paketan untuk posisi super spesial itu. Don’t get me wrong, I have friends and I respect my friends, Gw loyal sama orang-orang yg Gw anggap sahabat. Gw bakal membela kepentingan mereka di garda depan, bahkan tanpa mereka sadari. Tapi Gw juga gak bisa mengesampingkan konsep free will, Gw gak mau suatu hari harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ada orang-orang dalam hidup Gw yang merasa menderita untuk memenuhi role mereka yang sesungguhnya Gw kondisikan secara egois pada awalnya. Role yang gak pernah mereka minta atau mereka pilih secara sadar, tapi bikin mereka merasa wajib untuk memenuhi standar dan blah blah blah tertentu😛

Rumus untuk bahagia itu simple; Gak menyakiti, gak terpaksa untuk melakukan sesuatu dan gak memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu.

Terdengar egois? individualis? Dangkal? Biarlahhh!😀

Freedom3

Ditulis dengan Cinta dan Move on quality ^^

6 responses »

  1. hmmm…
    aku beberapa waktu yang lalu mengalami fase yang sedikit sama juga mungkin, gak sama persis sih. kadang aku sendirinya menerjemahkannya juga gak ngerti gimana. Tapi aku juga gak mau menerjemahkan lebih lanjut, capek. Mudah2an gak pernah mengalami fase itu lagi. Musti belajar dari sesuatu itu dan iya, jangan memaksakan diri. #makingeje
    Sekarang sedang menikmati hidup yang bahagia ini. :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s