Kampanye Anti Kekerasan Seksual, Sebuah Pergerakan Kultural

Standard

Lentera Indonesia adalah kelompok dukungan dalam bentuk pedampingan secara psikologis untuk korban pelecehan seksual dan perkosaan. Dalam perjalanan kami selama satu tahun bekerja bersama para penyintas kekerasan seksual kami mendapati bahwa proses pemulihan memerlukan dukungan dan merupakan tanggung jawab bersama. Peran masyarakat secara luas sangat dibutuhkan. Mengapa?

Banyak stigma yang keliru mengenai perkosaan beredar di tengah masyarakat. Lebih parah lagi, stigma-stigma ini diterima secara kultural menjadi semacam “kesepakatan bersama” dianggap hal yang lumrah. Budaya menjadi salah satu faktor yang memperkuat dan bahkan mengkonstruksi stigma-stigma tersebut. Dimana pemerkosaan dipandang sebagai “peristiwa seksual” semata.

Budaya yang patria mengidentikkan wanita dengan peran pengabdi, dalam paradigma tersebut “kekerasan seksual ” dianggap sebagai simbol penaklukan total seorang laki-laki terhadap wanita sehingga pada situasi khusus (misalnya saat perkosaan terjadi di dalam rumah, dilakukan oleh orang dekat) dianggap tidak melawan kodrat.

Kampanye “Men can stop rape!” adalah jawaban kami untuk melawan paradigma tersebut. Dengan melibatkan banyak anggota dan relawan laki-laki untuk menjadi penyampai pesan dan juru bicara dalam kampanye anti kekerasan seksual. Sehingga mereka bisa berbicara dengan sensitifitas mereka akan isu ini dalam bahasa, kreativitas dan kapasitas mereka sebagai laki-laki untuk berbicara kepada masyarakat umum (khususnya laki-laki)

Perkosaan bukanlah “peristiwa seksual” . Perkosaan lebih mengenai kekuasaan, dominasi dan kontrol yang seringkali melibatkan kekerasan fisik. Perkosaan adalah bentuk pelanggaran terhadap hak individu dan murni merupakan tindakan kriminal. Selain melakukan pendampingan secara psikologis dengan model survivor to survivor circle, kami juga melakukan kampanye anti kekerasan seksual dalam berbagai bentuk kegiatan. Mengadakan seminar public untuk meluruskan stigma yang berkembang, seminar untuk jurnalis mengenai bagaimana peliputan yang baik untuk kasus perkosaan dan berpartisipasi mengisi berbagai workshop (event to event workshop, office to office workshop) serta membantu mahasiswa yang memerlukan bahan penelitian.

Sadar akan pentingnya media dan new media, saat ini kami sedang mempersiapkan website Lentera Indonesia. Kami memaksimalkan penggunaan jejaring sosial twitter untuk sumber informasi dan edukasi serta bekerjasama dengan berbagai media untuk memperluas jangkauan dalam mensosialisasikan kampanye kami.

Memutuskan rantai kekerasan adalah tanggung jawab bersama, dibutuhkan peran serta seluruh elemen masyarakat untuk lebih sensitif dalam menyikapi isu kekerasan seksual. Dibutuhkan pemahaman yang sama mengenai makna sesungguhnya dari peristiwa kekerasan seksual. Menrekonstruksi peran laki-laki dan perempuan sebagai mitra yang sejajar, setara dan bisa bekerjasama dalam menyikapi peristiwa kekerasan seksual. Membuat kesepakatan bersama bahwa kekerasan seksual adalah pelanggaran hak individu dan tindakan kriminal.

Lebih dalam mengenai akar budaya, wanita oleh nenek moyang kita dianggap sebagai simbol kesucian suatu suku bangsa. Seperti fenomena Dewi Sri pada masyarakat Jawa. Bangsa kita pernah menjadi bangsa yang mensucikan wanita, mengapa hal ini bergeser? Sejak kapan hal ini berubah? 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s