Ini Gejala Apa

Standard

Hari minggu 6 Mei 2012, saya melihat sendiri keadaan manusia dititik paling rendahnya, hingga hanya tersisa seonggok tulang, daging dan amarah, hilang rasa kemanusiaannya.

Hari itu kami para siswa kelas jurnalisme yayasan pantau melakukan praktek meliput di HKBP Filadelfia, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Kami sudah diperingatkan bahwa keadaan disana agak tidak bersahabat dan berpotensi terjadi bentrokan.

Dengan persiapan mental seadanya, berusaha berpakaian tidak menyolok, walau terbukti salah karena saya mengenakan kaos berwarna merah bata. Saya dan rombongan berangkat kesana dengan penuh semangat.

Tiba di lokasi, situasi sangat kacau. Ada orasi yg dilakukan dengan pengeras suara menolak ibadah jemaat HKBF Filadelfia disambut teriakan-teriakan warga desa jejalen yang meminta para jemaat untuk meninggalkan lokasi.

Saya lihat sekeliling saya dan merasa miris, selain laki-laki dan perempuan dewasa ada anak-anak kecil yang dilibatkan dalam aksi protes ini. Lebih terkejut lagi saat mendapati ada laki-laki yang menatap saya dengan wajah penuh kebencian dan terus menatap seperti menjadikan saya target utamanya.

Saya berusaha tidak mengindahkan, terus mengambil foto secara sembunyi-sembunyi dan melakukan live-report melalui twitter @Rhesya  Sampai tidak menyadari bahwa posisi laki-laki itu yang tadinya berada di belakang mobil yg digunakan untuk orasi ternyata sudah berhasil menerobos kerumunan dan posisinya sudah berada disisi depan mobil yang sudah lebih dekat dari posisi saya berdiri.

Saya mulai khawatir, khawatir dengan laki-laki itu, dan khawatir dengan massa intoleran yang sudah semakin kasar untuk mengusir saya mundur keluar desa itu. Saya dan rekan saya berjalan menuju keluar desa itu, massa dibelakang berteriak

“Perkosa, Perkosa!”

Kami berjalan pelan-pelan beriringan, ada polisi di sebelah kiri kami. Saya didorong 3 ibu-ibu sambil diteriaki

“Pergi!”

“Gak ada tempat buat kalian”

“Jangan datang lagi”

“Gak tau malu!”

“Mukanya di pantat!”

“Sembayang sono di rumah lo, rumah lo kan pada lega-lega” (dgn logat Bekasi)

Kami berjalan kearah lokasi kami memparkir mobil, namun mengurungkan niat karena tidak mau mobil-mobil kami menjadi sasaran kemarahan massa.

Kami memutuskan untuk berjalan keluar komplek saat tiga ibu menghadang kami dan meminta kami menunjukkan kartu identitas penduduk.

Saya tidak berkata satu patahpun, bahkan tidak terfikir untuk mengaku beragama islam. Muslim atau non-muslim, tidak ada manusia yg pantas mendapat perlakuan kasar dan tidak berperi kemanusiaan seperti yg dilakukan massa intoleran di Desa Jejalen.

Lolos dari mereka kami berjalan mengarah sejauh mungkin dari desa itu saat tiba-tiba ada gelas aqua berisi dilempar kearah kami. Lemparannya meleset. Kami terus berjalan hingga tiba di tempat yang aman.

Kami saling diam, pikiran saya melayang entah kemana. Kami melihat sendiri bagaimana aparat seperti tidak berdaya menghadapi massa.

Hari itu akun twitter saya mendapat 209 mention berisi reaksi pengguna twitter terhadap insiden HKBP Filadelfia yg saya laporkan melalui twitter. Kebanyakan rekan di twitter mengganggap kerusuhan ini adalah FPI dan khusus mengenai penanganan terhadap kasus kekerasan yang melibatkan ormas vandalist berseragam “agama” respon pesimis bernada menuduh justru banyak dialamatkan kepada aparat polisi.

Semua ajaran agama boleh saja mengklaim keberadaannya sebagai pengajar kedamaian. Namun pada kenyataannya konflik berbasis perbedaan agama semakin marak terjadi di Indonesia. Tensinya semakin meningkat.

Kaum pluralist banyak mempertanyakan realita ini, kemana larinya faham bhineka tunggal ika?

Rakyat yang frustrasi mencari jawaban. Berbagai teori konspirasi berseliweran, mencoba menyingkap fakta dibalik fenomena ini, Banyak anggapan bahwa permasalahan agama sengaja diangkat oleh pengurus negara. guna menutupi isu-isu penyimpangan kekuasaan.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa?

Ini gejala apa?

Note:

Bagi yang penasaran dengan sejarah dan status hukum HKBP Filadelfia, silakan cek link ini http://www.andreasharsono.net/2012/03/gereja-hkbp-filadelfia.html

Bagi yang penasaran apakah ada FPI disana? saya pastikan, FPI memang ada disana.

 


22 responses »

    • Iya, aku gak apa-apa, tapi jadi semakin emosi melihat tindak-tanduk “fundamentalis” di twitter. Mereka dihasut, mereka diprovokasi dan kebodohan bikin mereka buta *miris*

  1. Aku nggak tau seyakin apa mereka dengan ‘surga’ mereka itu. Aku cuma pengen tau apa yang mereka pikirkan saat melakukan itu semua. Apalagi kalo mengingat ada ibu-ibu yang seperti itu, anak-anak macam apa yang akan mereka besarkan? Ya Tuhan… 8′(((((

    • Mbak Ines, aku melihat fenomena baru yaitu pemberdayaan perempuan dalam melakukan kekerasan terhadap perempuan lain dan menyasar bagian tubuh perempuan… which is sangat sangat mempihatinkan😦

  2. Itu kira-kira sebab penduduk sedemikian kasar kepada jemaat Filadelfia apa ya?

    Apakah ada sengketa tanah, atau ada oknum jemaat yang melakukan kesalahan, atau mungkin kecemburuan sosial? Mungkin penjelasan tentang latar belakang masalah bisa mencerahkan suasana.

    Salam

    • Hai Dwi, barusan saya sudah menyertakan link mengenai sejarah HKBP Filadelfia dan status hukumnya. Gereja itu sudah menang banding, sesungguhnya penduduk di RW 9 (lokasi tempat gereja didirikan) sudah setuju, namun warga desa lainnya menolak dan penolakan ini didukung oleh pemerintah daerah yang tidak mau mengindahkan hasil keputusan Mahkamah Agung mengenai status HKBP Filadelfia.

  3. Sedih banget bacanya.. Makasih udah share sedikit laporan pandangan mata ini ya. Sayang sekali mba Rhesya nggak sempat meliput tuntas karena penduduk yang sangar. Minta ijin reblog yah.. Thanks.

    • Situasinya tdk memungkinkan untuk bertahan disana lebih lama. Silakan reblog, tadi sudah saya sertakan juga link mengenai latar belakang dan status hukum HKBP Filadelfia, sekedar referensi agar permasalahannya lebih jelas.

    • Saya setuju sekali mengenai hal itu, plus dengan hadirnya FPI di tengah-tengah insiden tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa andaikata mereka bukan dalang, mereka menyetujui dan mendukung cara-cara kekerasan.

  4. Sebenernya kalo mau jujur,semua masalah ini tak jauh urusanya dr perut,seandainya warga desa itu kehidupan ekonominya baik takkan mereka terhasut oleh hal2 seperti ini,coba diselidiki mereka2 yg ikut protes itu pasti taraf kehidupanya dibawah garis alias miskin

    • Mas Aries, bisa saja karena faktor kemiskinan dan kebodohan pasti. Menurut saya ini tanggung jawab pemerintah dan dalam kasus ini sekali lagi pemerintah/negara tidak hadir😦

  5. yups benar…semua krn kebodohan…islam itu indah…islam itu tak prnh menyeru kekerasan…klo mengaku islam hrsnya bljr ttg islam lbh detil, dr al-quran dan hadist…al quran & al hadist tdk pernah menyuruh u berbuat dholim dan berbuat keji…terhadap sesama, baik itu muslim ato non muslim….gmn gak bodoh…mengaku islam yg dibaca novel, koran, dll…nontonnya sinetron g bermutu yg isinya maki2an dll…sedang al-quran dan hadist tdk kenal sama sekali ( islam KTP ),,,,sehingga mudah dibodohi…mudah diprovokasi…naudzubilah min dzalik….semoga Allah memberi Hidayah kpd org2 tersebut….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s