“Heroes among us”

Standard


Stereotype

Bagi orang kebanyakan, kata pahlawan telah mempunyai arti yang demikian superior, suci, tinggi, agung,  dan sangat luar biasa. Sehingga kata tersebut  selalu diidentikkan dengan aksi-aksi  heroik yang mengagumkan, Seperti aksi heroik para pahlawan yang bertempur dalam medan perang, yang hasil perjuangannya, yaitu  kemerdekaan bisa kita nikmati sampai sekarang ini, ataupun kisah seorang anggota pemadam kebakaran yang berhasil menyelamatkan seorang bayi. Kata pahlawan ini, hampir selalu diidentikkan dengan hal-hal luar biasa yang  jauh dari jangkauan kita, Hal yang tidak mungkin kita lakukan karena perubahan jaman seperti memperjuangkan kemerdekaan, (kita tidak sedang berperang kan?)  ataupun karena memang bukan merupakan bidang pekerjaan kita dan kita tidak berkecimpung di dalamnya seperti dalam kasus pemadam kebakaran tadi.

Kita juga mengenal istilah `pahlawan tanpa tanda jasa` , yang secara umum seringkali diidentikkan dengan aksi non-profit ataupun juga dengan profesi-profesi dimana terjadi ketimpangan antara kewajiban dengan upah yang diterima, Secara istilah semua orang menghargai profesi tersebut,  namun dalam praktek secara umum, kegiatan kepahlawanan diam-diam tersebut  jarang sekali mendapatkan apresiasi yang sesuai dengan `jasa`nya tersebut.

Super Heroes

It’s a bird, it’s a plane, it’s Superman taking a plane!

Ungkapan legendaris pembuka serial televisi `Superman` sejak pertama di tayangkan di Amerika pada tahun 1952 yang langsung menobatkan Superman dan kostumnya yang didominasi warna merah biru seperti bendera Amerika sebagai ikon budaya Amerika dan Ikon Super Heroes, Yup Kehadiran Superman di televisi, yang awalnya merupakan tokoh DC comic sejak tahun 1933 menandai lahirnya Era super heroes berkostum.

Sangat menarik, televisi (dalam hal ini, penulis menitik beratkan perhatian pada pertelevisian di amerika serikat) bahkan memiliki dan membuat definisi sendiri  mengenai `pahlawan`, dimana penonton atau  audiensnya seperti dididik untuk mengagungkan kemampuan `super, dan memiliki `ide` yang berbeda mengenai hakikat kepahlawanan., Diawali dengan Era superman dengan Ganknya “Justice League of America”  alias para pahlawan berkostum, yang virusnya sempat mewabah di Indonesia (munculnya Sri Asih Ra Kosasih 1953, Gundala Putera Petir 1969, Nusantara  1974 dll).

Di teruskan dengan munculnya pahlawan-pahlawan ganteng, cantik ,sexy dan mendapat sambutan yang sama baiknya, paradigma mengenai pahlawanpun berubah, saat ini mereka tidak lagi berkostum, mereka hidup ditengah-tengah kita,mereka orang biasa, tua,muda, wanita, laki-laki , dengan karakter yang lebih manusiawi,hal ini menjadi semacam sosialisi nilai baru yang mengandung pesan moral, bahwa siapa saja bisa menjadi pahlawan, dan bahwa di balik kemampuan super yang dimilikinya mereka menanggung beban tanggung jawab yang besar.

“With great power comes great responsibility.”

The Real Heroes

I think of a hero as someone who understands the degree of responsibility that comes with his freedom.Bob Dylan (1941 – )”

Everyone is necessarily the hero of his own life story. John Barth (1930 – )”

Semua manusia dalam kapasitasnya masing-masing , sesuai dengan idealisme, ketertarikan, profesi, tujuan, kebutuhan, tuntutan hidup dan keyakinan mereka, adalah pahlawan bagi dirinya, lingkungannya dan orang lain.Para penjaga pintu kereta api yang ditangannyalah keselamatan para penumpang kereta api bergantung, para sukarelawan yang mengorbankan waktu dan tenaganya untuk menolong korban bencana alam ataupun yang berbagi ilmu tanpa diupah di desa-desa terpencil, para penulis dan juga para pencipta lagu yang kebetulan tulisan serta lagu-lagunya nya telah berhasil menginspirasi orang lain dan memberi motivasi  hidup,para pekerja yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, para pemuda yang berusaha mengisi kemerdekaan dengan menyalurkan, berbagi minat dan bakatnya sehingga berguna bagi orang lain,  para pelajar yang bekerja keras dan berusaha mendapat nilai yang bagus, para orangtua yang selalu berusaha untuk memberikan kehidupan yang lebih baik dari yang mereka miliki untuk anak-anaknya,manusia yang berjuang untuk hidupnya, manusia yang berjuang demi keyakinannya , mereka  semua adalah pahlawan diam-diam dalam versi yang berbeda-beda, mereka ada disekitar kita, dan kita adalah salah satu dari mereka.

Semua manusia adalah pahlawan bagi orang-orang yang mencintainya, dan konsekwensinya adalah semua manusia berkewajiban untuk melakukan yang terbaik bagi orang-orang yang mencintainya.

Note: Bukannya saya tidak menghargai pahlawan yang sudah berjuang demi kemerdekaan, sudah pasti saya sangat menghormati beliau-beliau yang telah berkorban jiwa dan raga demi kemerdekaan yang saya cintai, jasa mereka tidak terhingga. Namun pada kesempatan ini saya ingin berbagi sebuah perspektif mengenai pahlawan-pahlawan lain yang ada di sekitar kita.

Referensi

http://id.wikipedia.org/wiki/Superman

http://www.internationalhero.co.uk/i/indonesia.htm

About Rhesya

Simple person, with simple Ideas of life… Social media enthusiast, Pro Bhineka Tunggal Ika, Works for www.majalah-historia.com , Actively involved in Lentera Indonesia or @LenteraID on twitter, A Support Group For Rape and Sexual Abuse Survivor. I believe #RapeIsNotAJoke and Indonesia would be better without FPI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s