Maap apakah saya harus pamit ?

Standard

Saya betul-betul di buat sakit kepala beberapa minggu belakangan ini, sebut saja sudah kurang lebih sekitar 3 bulanan ini saya berkunjung di rumah seseorang yang bernama kita sebut saja Tuan Tk, orangnya tampan, pintar, karismatik, dan apa adanya, kadang "beliau"terlihat penuh kasih sayang, saya fikir beliau orang yang sangat humoris, tapi terkadang saya benar-benar yakin kalau beliau adalah orang paling pemarah yang pernah saya temui.

Oh ya, yang membuat saya sakit kepala adalah:,

Begini, saat pertama kali beliau mengajak saya untuk berkunjung ke rumahnya saya menangkap kesan bahwa saya benar-benar di inginkan, dan di butuhkan di rumah itu. Sikap beliau pun sangat bersahabat. Saya melihat kedamaian yang nyata di dalam rumah itu, rumah mungil dengan cat warna hijau yang teduh, tirai-tirai sederhana yang berwarna senada , di tambah sofa empuk yang menambah kesan hangat dan "hommy", di ramaikan dengan rerimbunan pohon di beranda rumah mungil itu, sangat Asri.

Pada awalnya saya merasa sungkan untuk mulai berkegiatan di dalam rumah itu, dan saya hampir selalu berjingkat kecil malu-malu jika saya lapar dan hendak pergi ke dapur untuk mengambil makanan, atau ketika saya merasa perlu untuk pergi ke kamar kecil. Hal itu membuat marah tuan Tk, menurutnya saya tidak perlu melakukan hal tersebut karena saya sudah menjadi bagian dari rumah itu dan lebih dalamnya lagi bagian dari hidupnya. Hal itu membuat saya bahagia luar biasa, pelan tapi pasti saya mulai kerasan di dalam rumah itu, saya sudah tidak sungkan-sungkan lagi untuk berkegiatan disana, pergi ke dapur, ke kamar kecil, bahkan saya sudah bisa dengan bebasnya menari dan bernyanyi di dalam rumah itu.. pendek kata saya Merasa bahagia, merasa di terima, merasa nyaman dengan segala yang ada di rumah itu, termasuk juga dengan si empunya rumah. saya merasa bebas menjadi diri saya sendiri

Masalah di mulai beberapa minggu belakangan ini, saya melihat perubahan sikap Mr Tk, beliau tampak berusaha terlalu keras untuk terlihat wajar saat berbicara dengan saya. Sifat yang di paksakan ini membuat saya tidak bisa menahan diri lagi untuk langsung menghadap beliau dan mempertanyakan kejanggalan sikapnya kepada saya. Jawaban yang saya terima waktu itu walau pun agak kurang meyakinkan  menurut saya masih cukup bisa di terima, beliau bilang semua itu karena beliau terlalu lelah berkat kesibukan-kesibukannya. Kemudian tak beberapa lama kejadian berulang, saat saya tanyakan lagi secara tidak langsung beliau mengindikasikan tentang "kebutuhan"nya akan keleluasan pribadi atau privasi yang agak terganggu dengan kehadiran saya. Saat saya bertanya apa yang harus saya lakukan beliau bilang saya tidak perlu melakukan apa-apa karena sejalan waktu beliau akan bisa membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan saya, saya pun merasa lega..

Waktu berlalu, saya pun masih bertahan dengan kebiasaan saya mondar-mandir dengan bebasnya di rumah itu, bernyanyi, menari, dan kadang-kadang menggoda Mr Tk di sela kesibukannya. Karena saya bahagia menjadi bagian dari hidupnya dan menjadi bagian dari rumah itu.

Tiba-tiba malam ini beliau terlihat marah, dan saya pun di ajak bicara, beliau bilang beliau butuh ruang gerak dan hal itu tidak bisa di lakukan dengan adanya saya yang mondar-mandir di rumahnya dengan tanpa aturan. Hal itu tentu saja sangat mengejut kan buat saya, tak tahan dengan kenyataan itu saya pun menangis sejadi-jadinya. Sepertinya beliau tau kalau saya habis menangis mungkin dari nada suara saya, atau mungkin juga dari mata saya yang agak sedikit memerah dan membengkak saat saya mengutarakan keinginan saya untuk sementara meninggalkan rumah itu, beliau tidak mengijin kan saya untuk pergi dan malah menjadi semakin marah, akhirnya saya mengalah. Mengingat kebaikan-kebaikannya selama ini dan betapa saya merasa beliau sudah mulai menyayangi saya, saya pun lagi-lagi menurut.

Meskipun begitu hubungan kami sudah tidak sama lagi, saya sudah tidak bisa merasa leluasa lagi, ketakutan-ketakutan akan tidak amannya posisi saya di rumah itu mulai bermunculan, saya sering menangis, saya mulai merasa frustrasi. Tidak ternilai betapa saya menyayangi rumah itu dan si empunya rumah

Jika saya punya kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dengan Mr Tk dalam situasi yang kondusif untuk kami berdua, saat saya maupun beliau bisa berbicara bebas, terlepas dari segala ke khawatiran yang membebani saya ataupun beliau, ingin sekali saya bertanya..

"Apakah saya masih di inginkan?"

Atau

"Maap apakan saya harus pamit?"

Ini bukan kisah nyata loh..

About Rhesya

Simple person, with simple Ideas of life… Social media enthusiast, Pro Bhineka Tunggal Ika, Works for www.majalah-historia.com , Actively involved in Lentera Indonesia or @LenteraID on twitter, A Support Group For Rape and Sexual Abuse Survivor. I believe #RapeIsNotAJoke and Indonesia would be better without FPI

2 responses »

  1. Bukan kisah nyata ya..?
    Hmm, ceritanya sih emang bukan cerita nyata, tapi makna dibalik cerita itu sepertinya TOO REAL ya non..? :p

    Kalo Retha in personal yg jadi tuh tuan Tk, Retha will say..
    “yah, kamu masi saya inginkan kok”

    Nah tapi berhubung Retha tuh bukan si Tuan Tk ini, secara pertama : Retha bukan Tuan
    kedua : Inisial Retha bukan Tk

    jadi yaaa..
    wallahualam deh :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s